Tampilkan postingan dengan label TOKOH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TOKOH. Tampilkan semua postingan
[elfaqir17]-Satu dari sekian tokoh dari kalangan Nahdlatul Ulama (NU) yang layak disematkan gelar pahlawan adalah KH Masjkur (baca: Masykur). Kiai Masjkur yang pernah mengemban amanah sebagai Menteri Agama RI ini ikut berjuang dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia dari tangan penjajah dan terdaftar sebagai salah satu “the founding father”.

Perjuangan ulama yang lahir di Singosari Malang tahun 1899 M/1315 H ini telah dirintis sejak usia muda di bidang pendidikan, dengan mendirikan Pesantren Misbahul Wathan. Namun, sebelum mendirikan pesantren dan terjun ke masyarakat, Masjkur muda terlebih dahulu telah mempersiapkan modal awal bagi dirinya sendiri, dengan mengenyam pelajaran agama di beberapa pesantren dengan berbagai konsentrasi keilmuan, antara lain Pesantren Kresek Cibatu, Pesantren Bungkuk Malang di bawah asuhan Kiai Thohir, Pesantren Sono Bundaran Sidoarjo untuk belajar nahwu sharaf dan di Pesantren Siwalan Panji Sidoarjo untuk memperdalam ilmu fiqih.

Kemudian, di Tebu Ireng Jombang, ia menimba ilmu hadist dan tafsir dari Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari. Selain itu, Masjkur muda juga pernah berguru kepada Syaikhona Kholil Bangkalan Madura. Maka lengkap sudah, modal awal yang dimilikinya untuk menjadi seorang calon ulama dan pemimpin umat.

Ia juga sempat menjadi santri di Pesantren Jamsaren Surakarta, di bawah asuhan KH Idris, seorang kiai keturunan pasukan Pangeran Diponegoro. Di pesantren ini pula, ia bertemu dengan kawan-kawannya yang kelak juga menjadi pemimpin umat, antara lain KH Mustain (Tuban), KH Arwani Amin (Kudus) dan sebagainya. Sifat Kiai Idris yang terkenal non-kooperatif terhadap Belanda, ikut tertanam dalam jiwa sang murid, yang sedikit banyak mulai memahami arti penting perjuangan.

Mendirikan Pesantren

Setelah melanglangbuana ke berbagai daerah untuk menuntut ilmu, ia kembali ke Singosari dan di sana ia membuka pesantren yang diberi nama Misbahul Wathan (Pelita Tanah Air) pada tahun 1923.

Beberapa tahun berikutnya, ketika Nahdlatul Ulama berdiri, ia pun ikut aktif di dalamnya, dan di tahun 1932 ia sudah menjadi Ketua Cabang NU Kota Malang. Di organisasi tersebut, ia sering meminta nasihat kepada KH Wahab Chasbullah. Salah satunya, ketika pesantren yang ia pimpin sering mendapat gangguan dari pemerintah kolonial. Atas saran Kiai Wahab pula, ia kemudian mengganti nama pesantrennya menjadi Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Tanah Air). Sebelumnya, bersama Kiai Wahab, Kiai Masjkur juga sering mengikuti kegiatan kelompok Tashwirul Afkar yang sering membahas agama, dakwah dan sosial.
Pada tahun 1938, Masjkur diangkat sebagai salah satu Pengurus Besar NU yang berkedudukan pusat di Surabaya.

Perjuangan Perang

Keinginan untuk terbebas dari belenggu penjajahan, membuat para putera bangsa ini ikut mengangkat senjata untuk merebut kemerdekaan. Termasuk, Kiai Masjkur yang kala itu masih aktif sebagai seorang pengajar di Nahdlatul Wathan dan aktivis NU.

Pada zaman pendudukan Jepang, Masjkur menjadi utusan dari Karesidenan Malang untuk mengikuti latihan kemiliteran di Bogor, disusul dengan latihan khusus bagi ulama. Dari itulah, “karirnya” di bidang militer dimulai. Ia berjuang bersama pasukan Hizbullah. Hingga, sejak 1945-1947 ia diangkat menjadi Ketua Markas Tertinggi Sub. Bagian Sabilillah yang berpusat di Kota Malang.

Belakangan, ia juga ikut dimasukkan dalam Dewan Pertahanan Negara dan anggota Konstituante.

Dalam suasana perang yang tengah berkecamuk, Masjkur beberapa kali dipercaya untuk mengemban amanah Menteri Agama (Menag), secara berturut-turut pada Kabinet Amir Syarifuddin (1947), Kabinet Presidenssil Moh. Hatta (1948), Kabinet VII Negara RI, Kabinet Darurat dan Komisariat PDRI (1949), Kabinet Hatta (1949) dan Kabinet Peralihan RI. Ia sempat mundur dari posisi Menag, karena sakit-sakitan akibat bergerilya. Pada masa Kabinet Ali-Arifin (1953-1955) ia kembali dipercaya untuk menjadi Menag.

Alhasil, ketika menjadi seorang menteri, ia juga ikut bergerilya bersama para pejuang lainnya (pernah pula bergabung bersama kelompok gerilyawan yang dipimpin Panglima Besar Soedirman), sembari tetap mengatur jalannya kementrian yang ia pimpin, mulai dari soal instruksi serta peraturan darurat. Kemudian juga menyusun KUA, pengadilan agama, pendidikan, madrasah, mengatur shalat, dan membantu secara nyata perjuangan nasional.

Sebagai Menag, tiap bulan ia mendapat gaji Rp. 300 Oeang Repoeblik Indonesia (ORI), jumlah uang yang saat itu cukup untuk makan sekeluarga selama sepekan.

Saat kembali menjadi Menag, di tahun 1954 Kiai Masjkur memprakarsai Konferensi Ulama yang diadakan di Cipanas Jawa Barat. Pertemuan para ulama tersebut, salah satunya menetapkan gelar “Waliyul Amri Dlaruri bis Syaukah” (pemegang pemerintahan dalam keadaan darurat dengan kekuasaan penuh) untuk Presiden Soekarno. Penetapan tersebut berdasar pada pertimbangan syara’, yakni Presiden RI saat itu terpilih belum memperoleh “baiat” dari rakyat karena tidak dipilih melalui Pemilu. Penetapan itu sekaligus menghapus kecurigaan dari golongan tertentu, apakah umat Islam Indonesia mengakui kepemimpinan Soekarno (RI) atau Kartosuwiryo (DI/TII).

Memimpin NU

September 1951, menjelang dilaksanakannya Muktamar NU ke-19 yang akan dihelat di Palembang, Saat itu NU masih masuk dalam Masyumi, PBNU membentuk sebuah badan yang bernama Majelis Pertimbangan Politik (MPP) PBNU, terdiri dari 9 ulama, termasuk di dalamnya Kiai Masjkur. Badan tersebut dibentuk dalam sebuah rapat PBNU yang diadakan di sebuah rumah milik KH Abdulmukti, Jl. Slamet Riyadi 45 Solo.

Kemudian, Muktamar NU ke-19 digelar 26 April – 1 Mei 1952 dan menghasilkan sebuah keputusan penting : NU memisahkan diri dari Masyumi!

Sejak Muktamar NU ke-19, Kiai Masjkur memimpin NU sebagai Ketua Umum Tanfidziyah. bersama KH Wahid Hasyim yang menjadi Ketua Muda. Sedangkan posisi Rais ‘Aam masih dipegang KH Wahab Chasbullah.

Namun, setelah wafatnya KH Wahid Hasyim serta diangkatnya KH Masjkur kembali menjadi Menteri Agama, maka PB Tanfidziyah sehari-hari dipimpin oleh KH M Dahlan.

Kiai Masjkur terus berjuang bersama NU hingga akhir hayatnya. Tercatat selepas menjadi ketua, ia tetap aktif di kepengurusan PBNU yakni anggota tanfidziyah (1954-1956), Ketua Fraksi Konstituante Partai NU (1956-1959), Ketua Sarbumusi (1959-1962), Rais Syuriyah (1967-1971, 1971-1979) dan Mustasyar (1984-1989, 1989-1994). Hingga wafat pada tahun 1992, Kiai Maskjur masih tercatat dalam kepengurusan Mustasyar PBNU.

Kiai Masjkur dimakamkan di pemakaman yang terletak di kompleks Masjid Bungkuk Singosari Malang, yang juga terdapat makam KH Nahrawi Thohir dan Kiai Thohir. Lahumul-fatihah! (Ajie Najmuddin)

*Foto bersumber dari buku Aboebakar Atjeh tentang Sejarah Hidup KH A Wahid Hasjim. Foto ini belum banyak beredar.

NU Online
[elfaqir17]-Suasana langit pada pagi di hari kedua Lebaran, Sabtu (18/7) lalu, cukup cerah bahkan menjelang siang tergolong terik. Namun, keadaan tersebut tak membuat luntur semangat orang-orang untuk hadir ke Majelis Kanzus Sholawat yang terletak di Jalan Dr. Wahidin No. 70 Pekalongan. Mereka hadir untuk mengikuti pengajian dan acara halal bi halal yang diselenggarakan rutin setiap tahunnya.

Usai membaca dzikir bersama dan mendengarkan mauidhoh hasanah, satu-persatu jamaah berbaris dengan tertib, menunggu giliran mereka untuk bersalaman dengan seorang tokoh yang mereka anggap sebagai seorang mursyid, guru dunia dan akhirat. Dialah Habib Luthfi, salah satu tokoh ulama yang kini menjadi Rais ‘Aam Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh Al Mu’tabaroh An Nahdliyyah (JATMAN).

Ulama yang bernama lengkap Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya tersebut, dengan penuh kesabaran menerima tangan-tangan yang seakan tiada kunjung berhenti untuk bersalaman dengannya. Sesekali, seorang dari jamaah atau disebut para murid tersebut mengutarakan sesuatu kepada abah, panggilan akrab para murid kepada Habib Luthfi, entah mengemukakan sebuah pertanyaan atau meminta untuk didoakan.

Ketokohan Habib Luthfi di kalangan jam’iyyah Nahdlatul Ulama (NU) ini tergolong begitu lengkap baik dari sanad keilmuan maupun nasab keturunan. Selain karena keilmuannya, ia mewarisi berbagai sanad thariqah mu’tabarah dari berbagai gurunya, secara nasab Habib Luthfi juga merupakan seorang keturunan tokoh pendiri NU, yang konon namanya tak mau disebut dalam sejarah pendirian NU.

Disampaikan Habib Luthfi beberapa tahun lalu dalam sebuah pengajian Harlah NU di Pekalongan, kakeknya yang bernama Habib Hasyim bin Yahya merupakan ulama, selain Mbah Kiai Kholil Bangkalan, yang dimintai restunya oleh KH Hasyim Asy’ari ketika hendak mendirikan NU.

Pelayan Umat

Habib Luthfi adalah sosok pelayan umat sejati. Dalam kesibukannya sebagai Ketua MUI Jawa Tengah dan pendakwah, setiap hari, rumahnya di kawasan Noyontaan Gang 7, Pekalongan, Jawa Tengah, selalu marak oleh tamu yang datang dari berbagai daerah di tanah air. Hampir 24 jam, pintu rumah ayah lima anak itu selalu terbuka untuk ratusan orang yang datang dengan berbagai keperluan. Mulai dari minta restu, mohon doa dan ijazah, sampai konsultasi berbagai problematika kehidupan. Biasanya mereka akan merasa tenang setelah mendapat nasihat.

“Mereka kan tamu saya, sudah menjadi kewajiban saya untuk menghormati tamu. Karena itu, saya selalu terbuka,” demikian jawab Habib Luthfi ketika ditanya tentang para tamunya.

Habib Luthfi juga menularkan ilmunya melalui majelis taklim yang digelar seminggu dua kali. Selain kajian mingguan, setiap ba’da Subuh hari Jumat Kliwon, Habib Luthfi juga membacakan kitab Jami’ul Ushul fil Auliya’.

Di antara tiga majelisnya, pengajian malam Rabu dan Jum’at pagi itulah yang selalu dihadiri ribuan umat hingga menutup Jalan Dr. Wahidin. Meski banyak mengkaji tasawuf, majelis taklim tersebut terbuka untuk siapa saja.

Satu hal yang khas, biasa disampaikan Habib Luthfi dalam setiap kesempatan ia mengisi ceramah pengajian di berbagai daerah, ia mendorong masyarakat untuk mencintai bangsa ini dengan setulus hati, serta menumbuhkan kebangaan akan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Ditegaskan olehnya dalam sebuah acara pengajian, bagaimanapun keadaan bangsa ini, sejelek apapun kita mesti bangga dan mengakuinya sebagai tanah air. “Indonesia tanah airku tanah tumpah darahku, ini lagu atau seremonial? Ini semestinya menjadi iqror, sejauh mana pengakuan kita terhadap Indonesia sebagai tanah airku. Tunjukkan Indonesia tanah airku, tidak hanya dalam lagu, tapi juga dalam perilaku,” tegasnya. (Ajie Najmuddin)
------------------------------------------------------
Sumber : muktamar.nu.or.id
[elfaqir17]-Bagi warga NU masa kini, nama KH Muchith Muzadi menjadi legenda serta saksi hidup perjalanan perkembangan jam’iyyah Nahdlatul Ulama (NU) dari masa ke masa.  Bagaimana tidak, kiai kelahiran Bangilan Tuban 90 tahun silam tersebut, memulai karir perjuangannya “secara resmi” di NU sejak tahun 1941.

Pada tahun itu, ia resmi menjadi anggota NU ditandai dengan kepemilikan kartu tanda anggota (Rasyidul ‘Adlawiyah). Kartu tersebut diperolehnya, saat ia menjadi santri Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari di Pondok Tebuireng Jombang. Sejak saat itu ia kemudian ikut termasuk dalam sebelas orang yang mendirikan Partai NU di Tuban (1952), lalu di tahun yang sama ia juga mengemban amanah sebagai Ketua GP Ansor Tuban.

Kepindahan tempat tinggalnya ke daerah lain, tak menyurutkan kakak KH Hasyim Muzadi ini untuk terus berjuang bersama NU. Sekretaris GP Ansor Yogyakarta (1961-1962), Sekrearis GP Ansor Kabupaten Malang dan Sekretaris PCNU Jember (1968-1975), wakil ketua PCNU Jember (1976-1980), Pengurus LP Ma’arif PWNU Jatim (1980-1985), Wakil Rais Syuriyah PWNU Jatim (1992-1995), Rais Syuriyah PBNU (1994-2004) dan Mustasyar PBNU sejak Muktamar NU ke-31 Boyolali (2004).

Bahkan ketika NU masih bersama Masyumi, Kiai Muchith tak ketinggalan untuk ikut mengabdi, antara lain sebagai Komandan Kompi Hizbullah merangkap anggota Badan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Tuban (1947-1951). Karirnya di dalam pemerintahan pun tak kalah mentereng, dirinya pernah menjadi Wakil Ketua Dewan Pemerintah Daerah (DPD), kemudian menjadi Sekretaris Daerah Kabupaten Tuban (1959-1961).

Meski demikian, Mbah Muchith tetap dikenal sebagai pribadi yang bersahaja. Segala jabatan yang diembannya, tak membuatnya tertarik untuk menumpuk banyak harta. Satu nasihat dari salah satu sesepuh NU,KH Munasir Ali. “Chith, dulu orang-orang tua masuk NU, niat ndandakno awak (memperbaiki diri),” kata Kiai Muchith menirukan ucapan Kiai Munasir.

Namun, sayangnya pesan tersebut kini banyak tak dijalankan para warga NU. “Orang (sekarang,-red) masuk NU itu bukan ndandakno awak tapi rebutan iwak (berebut kedudukan),” begitu gurauan Kiai Muchith.

Khittah NU

Keterlibatannya begitu besar, dalam perumusan konsep menjelang muktamar di Situbondo tahun 1984 yang kemudian memutuskan khittah jam’iyyah NU, kembalinya NU ke kancah perjuangan, meninggalkan dunia politik praktis. Bersama KH Achmad Shiddiq, Rais Aam Syuriyah PBNU (1984-1989), Kiai Muchith sering disebut sebagai sosok yang mewarnai pemikiran dan gagasan Kiai Achmad Shiddiq. Hampir semua ide-ide cemerlang Kiai Achmad disampaikan terlebih dahulu kepada Kiai Muchith untuk dikonsep dan diketik dengan baik, sebelum disebarkan ke khalayak. Termasuk konsep “Khittah NU, Islam dan Asas Tunggal” yang fenomenal.

Tak Kenal Lelah

Di usianya yang tak lagi muda, semangat tokoh satu ini untuk terus berjuang bersama NU, memang patut untuk kita tiru. Sebagai sesepuh dan Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Mbah Muchith, tak pernah lelah untuk memberikan semangat kepada generasi penerus.

Seperti yang dikatakannya, saat menerima kunjungan dari para Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep, beberapa waktu lalu, di rumahnya, Malang. “Cintailah kiai dan rawatlah NU,” pesan Mbah Muchit singkat.

Tak ada kata menyerah bagi Mbah Muchith. Dalam kondisi yang seperti itu, dia masih selalu aktif dalam berbagai kegiatan NU. Meski tempat acara itu, berada di Jakarta atau Surabaya, dia datang sambil duduk di kursi roda. “Mumpung aku isih urip (selagi saya masih hidup),” tuturnya. (Ajie Najmuddin)


Sumber pendukung: Ahmad Mundzir dan Nurcholis, Perjalanan NU Tuban, 2014.
Lahir di Kota Provinsi Kupang Nusa Tenggara Timur pada 7 Juli 1938, Abdurahman Mustafa berasal dari perkampungan Islam tertua Islam, kampung Air Mata di Kecamatan Kota Raja Kota Kupang. Ia adalah seorang tokoh ulama pejuang sejak masa orde lama menyebarkan ahlusunah wal jama’ah di kota Kupang maupun di beberapa kabupaten kota di wilayah pulau Flores, wilayah Pulau Timor dan wilayah pulau Sumba di Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Selaku imam kelima masjid tertua NTT Masjid Baitul Kodim Airmata Kota Kupang, tetap mempertahan ahlusunah wal jama’ah menjadi prinsip dasar islam, merasa kegembiraan teramat sangat mendalam. Karena telah melewati beban begitu berat lahir dari keluarga tokoh yang memperjuangkan Islam di kota Kupang.

Sejak kecil sudah dikenalkan dengan prinsip-prinsip ke-NU-an oleh seluruh rumpun keluarga. Ia menjalankan amanah dengan meneruskan syiar Islam semasa muda melalui berbagai kegiatan organisasi kepemudaan melaksanakan mengaji, beberapa TPA khusus masjid di wilayah kota Kupang, melaksanakan yasinanan bergilir, mengajar kunut pada kelompok-kelompok pengajian. Tak hanya disitu perjuangan, berbagai misi demi menegambangkan Aswaja melalui kelompok masyarakat kecil dari kampung ke kampung dan tetap menjaga kemejemukan antara umat beragama di wilayah kota kupang dan sekitarnya.

Berjuangan mendakwahkan Islam NU dari kampung ke kampung pada orde lama tentu banyak tantangan walaupun sedikit keberhasilan yang diraih. Ketika berbincang bersma NU Online di Kupang Nusa Tenggara Timur, ia mengatakan keberhasilan atas perjuangan tersebut bisa mengislamkan 15 ribu Warga Kabupaten Timur Tengah Selatan (TTS) dari kelompok Kafir hingga masuk islam pada tahun 1960-1972.

Melalui berbagai cara, perjuang lewat pendidikan, pengajian sehingga masyarakat perkampungan dapat mengenal Islam dan memilih organisasi keagamaan adalah Nadhlatul Ulama (NU). Perjuangan pada masa itu, beberapa tokoh-tokoh muda dari kampung di kirim ke sekolah pesentren di Jawa. Agar mereka lebih mehamai NU lebih luas dan tidak menghilangkan cirri khas para pejuang pendiri NU.

Sebagai pendiri serta mantan Sekretaris Pertama NU Nusa Tenggara Timur (NTT)  pada tahun 1964, bermimpi akan terus menyebarkan ahlusunah waljama’ah kapanpun dan dimanapun. Walaupun hari ini dibilang usia yang cukup tua, tetapi perjuangan masih tetap terlihat melalui berbagai mimpar keagamaan.

Mantan Anggota DPR RI dari Fraksi NU pada tahun 1966-1970, KH. Abdurahman Mustafa, tetap mengontrol perkembangan NU melalui gedung senayan Jakarta. Tak merasa mewah berada di kursi empuk sebagai utusan NU Nusa Tenggara Timur, ketika turun ke NTT tetap mengunjungi basis-basis NU yang ada di beberapa kabupaten daratan timor, Sumba Maupun Flores.

Misi perjuangan sebagai tokoh syiar agama tetap patri perjuangan Islam, semasa lepas dari kursi senayan, mampu mendirikan beberapa Cabang Nadhlatul Ulama (NU) di seluruh pelosok Nusa Tenggara Timur.

Ia yang mendapat amanah sebagai Rais Suriah PWNU NTT berbagi pesan moral kepada seluruh kaum Nahdiyin di NTT agar tetap menjaga ahlusunnah sebagai landasan dasar Islam final dan Islam adalah agama yang rahmatan lilalamin. NU tetap menjaga nilai-nilai toleran sesama umat maupun sesama kelompok pemeluk agama lainnya. (Ajhar Jowe)

---------------------------------
Source : NU Online
resep donat empuk ala dunkin donut resep kue cubit coklat enak dan sederhana resep donat kentang empuk lembut dan enak resep es krim goreng coklat kriuk mudah dan sederhana resep es krim coklat lembut resep bolu karamel panggang sarang semut