[elfaqir17]-Membicarakan tentang dunia santri
merupakan topik yang menarik dan tidak akan ada habisnya. Hal ini bukan
tanpa alasan mengingat santri mempunyai keunikan tersendiri baik itu
tentang pandangan politik, seni, pendidikan, kultur bahkan bahasanya.
Santri dalam hal ini saya definisikan bukan layaknya definisi yang
dipakai Clifford Geertz yang mengatakan bahwa kaum santri adalah
sekelompok pemeluk Islam yang taat, tapi definisi yang dimaksud adalah
santri yang memang ditempa di dunia pesantren dengan didikan para kyai
sepuh. Hal ini akan sangat penting mengingat apabila memakai definisi
dari Geertz maka teman-teman HTI, Ihwanul Muslimin, bahkan ISIS pun akan
masuk dalam definisi santri. Namun apabila definisi yang kedua yang
dipakai, maka santri mempunyai sebuah karakter tersendiri.
Santri sangat kaya akan khazanah keilmuan
klasik namun juga mampu merespon hal-hal baru dengan konteks kekinian.
Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur menyebut karakter ini
dengan sebutan Islam Kosmopolitan. Dalam artikelnya yang berjudul Pesantren sebagai Subkultur (1974)
beliau menerangkan bagaimana uniknya dunia pesantren. Sebuah eksplanasi
antropologis atas sistem nilai pesantren yang meliputi asketisisme (zuhud),
kecintaan ilmu agama dan kepemimpinan kiai. Dengan ketiga nilai ini
pesantren menjelma subkultur: sub dari kultur umum yang unik, berbeda,
mandiri tetapi bisa memengaruhi kultur umum tersebut.
Namun dilain soal, tidak
sedikit orang yang beranggapan bahwa santri adalah kaum tradisionalis
yang mempunyai gaya hidup yang masih konservatif. Konsep modernis dan
tradisionalis sebenarnya memang sudah lama runtuh apabila yang dijadikan
tolak ukur adalah cara pandang atau khazanah keislaman yang dimiliki,
tentu kaum santri lebih modern dibandingkan orang-orang mengklaim
dirinya modern. Bagaimana tidak lebih modern, lha wong selama
ini yang bersuara dan mampu menjawab isu-isu kontemporer adalah kaum
santri. Sebut saja masalah aborsi, kalangan santri dalam Munas NU 2014
kemaren tampil untuk membahas itu dengan perbendaharaan keilmuan klasik
dipadu dengan ilmu mutakhir jaman sekarang. Tapi yang perlu digaris
bawahi adalah apabila yang dijadikan tolak ukur adalah jenjang
pendidikan dan kesejahteraan ekonomi memang sebagian besar kalangan
santri berada di level yang masih boleh dibilang rendah.
Seiring berjalannya waktu kesadaran kaum
santri akan perlunya mengenyam pendidikan yang lebih tinggi mulai
mewabah di beberapa pesantren, bahkan sebagian besar pesantren mempunyai
sekolah-sekolah favorit yang mampu menjebolkan anak didiknya di
perguruan tinggi bonafit. Pertanyaannya adalah bagaimana menjadi santri
di dunia perkuliahan? Pertanyaan ini memang mudah untuk dilontarkan tapi
tidak gampang untuk menyelesaikannya. Apakah kita harus melepas jubah
kesantian yang kita miliki atau ada opsi lain yang bisa dipakai. Mari
kita analisa, kalangan santri sebagian besar secara pendidikan memang
tidak banyak yang berkesempatan mengeyam pendidikan tinggi, khususnya PT
umum yang bonafit. Hal ini bisa dibuktikan bahwa kalangan santri
menjadi kaum minoritas di kampus. Faktor pendidikan akan bersifat
paralel dengan tingkat kesejahteraan. Seperti yang kita ketahui bersama
dari dua puluh persen penduduk Indonesia yang berada pada garis
kemiskinan bisa jadi 70-80 persennya adalah kalangan santri. Ini artinya
permasalahan kalangan santri terletak pada kualitas SDM. Maka sudah
menjadi kewajiban kita bersama yang diberikan kesempatan mengenyam
pendidikan tinggi untuk menjawabnya.
Melihat dari permasalahan di atas, maka
ketika kita sudah menjadi seorang mahasiswa kita harus memahami dunia
santri tidak hanya sekadar kultur namun juga harus memahami secara
rasional. Apabila tahapan ini sudah tercapai, maka tidak ada pilihan
lain kecuali menggerakkan dunia santri. Tentu manifestasi dari kata
“menggerakkan santri” pastilah bermacam-macam cara, bisa dengan ranah
gerakan, sosial, atau bahkan dengan kultur itu sendiri. Jadi menjadi
santri di kampus tidak harus melepas jubah kesantian, namun cukup dengan
memoles jubah tersebut sesuai dengan kondisi yang dibutuhkan di
masing-masing kampus. Hal ini sejalan dengan kaidah Al Muhafadhotu Alal Qodimis Sholeh Wal Akhdu Bil Jadidil Ashlah.
Segala macam jalan itu tentulah punya ongkos dan imbalan masing-masing.
Bagaimanapun juga membangun kalangan santri sama dengan membangun
Indonesia. Salam santri!!
Oleh : Moh Agus Fuat


0 komentar:
Posting Komentar