[elfaqir]-Ketika masuk dalam jenjang perguruan tinggi, tidak sedikit mahasiswa yang sudah mempunyai beberapa planning besar dalam hidupnya yang ingin dicapai pada masa depan. Entah itu mengenai planning dalam diri (pengembangan kepribadian) atau planning luar mengenai prestasi-prestasi yang ingin dicapai.
Namun, banyak di antara mahasiswa baru
belum mengenal dan mengetahui bagaimana atau perantara apa yang akan
dilakukan untuk berusaha mencapai cita-citanya awal tersebut. Tidak
sedikit yang asal memilih organisasi ataupun unit kegiatan mahasiswa
dengan anggapan untuk mencari pengalaman terlebih dahulu atau mencari
link sebanyak-banyaknya. Alhasil tidak sedikit yang malah pada tengah
perjalanan pribadi mahasiswa itu menjadi sebuah kebingungan dan
kebimbangan. Kurang mengenalnya apa yang diikuti dan dimasuki justru
bisa membuat terjerumus menjadi golongan-golongan yang tidak diharapkan
di awal.
Banyak ketika mahasiswa awalnya hanya
ikut-ikutan akhirnya menjadi fanatik. Awalnya menjadi pribadi muslim
yang santun menjadi muslim yang kaku dan ekstrimis. Pada akhirnya,
seorang mahasiswa yang notabene menjadi generasi penerus bangsa,
pembangun dan penegak utuhnya NKRI, menjadi mahasiwa yang hilang tujuan
awalnya dan kemudian menjadi penentang bangsa dan negera di garda
terdepan. Melambung-lambungkan isu pengahancuran NKRI yang sudah menjadi
kesepakatan final para pendiri bangsa dengan ideologi berbeda yang
bahkan mahasiswa itu sendiri tidak memahaminya.
Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama
(KMNU) yang ada di perguruan tinggi muncul sebagai wadah mahasiswa untuk
mengembalikan khittah mahasiwa sebagai mana awal mahasiswa tersebut ada
yakni sebagai penerus, penggerak, ilmuan muda, dan pengabdi kepada
masyarakat. Disini mahasiswa bisa langsung menyalurkan ide, gagasan,
tindakan langsung yang akan berdampak positif kepada masyarakat sekitar.
Banyak dari mahasiswa saat ini juga
kehilangan esensi belajar. Mahasiswa pergi merantau ataupun kuliah
kebanyakan hanya melakukan “kampus sentris” atau “studi sentris” banyak
di lingkungan mahasiswa itu sendiri sering dilupakan. Banyak dari para
pemilik kos, warga sekitar merasa kurang akrab bahkan tidak mengenal
dengan mahasasiswa yang ada di sekitar perkampungan mereka. Mahasiswa
pun merasa kurang penting untuk mengenal dan berbaur dalam masyarakat
sekitar karena orientasi pikiran yang sudah berubah, mimpi dan
pencapaian yang tinggi dan yang lain dilupakan.
Tradisi-tradisi yang ada dalam KMNU
membuat mahasiswa menjadi jiwa yang seimbang. Rutinan yasin, tahlil,
maulid dan pengabdian kepada warga sekitar menjadikan KMNU untuk
mengenal dan memahami peran mahasiswa dalam masyarakat tanpa melupakan
mimpi-mimpi dan capaian-capaian tinggi yang ingin di raih di kampus.
Seperti yang telah dicontohkan dulu oleh
kyai-kyai sepuh NU yang mendirikan pondok pesantren yang memang hanya
ingin mengabdikan hidup mereka untuk bangsa dan rakyat. Rakyat yang di
sekitar itu dulunya mengalami zaman kurangnya ilmu sekarang menjadi
tercerahkan dan menjadi kajian-kajian islam nusantara yang santun dan
beradab.
Mari kita menjadi mahasiswa yang tidak
melupakan esensi awal dari apa yang tersemat dalam status mahasiswa.
Gembleng mental dan jiwa dengan cara yang santun dan benar. Sehingga
ketika nanti menjadi mahasiswa yang berprestasi dengan semua pencapaian.
Pencapaian itu didapat ketika kita memang sudah siap secara mental dan
fisik.
Pada akhirnya dirimu nantinya akan bisa
menjadi bunga yang tumbuh semerbak mewangi mengharumkan bangsa karena
memang sistem sinergisitas akar, pohon dan ratingnya sudah siap dan
kokoh untuk meumbuhkan bunga itu.
Kita boleh saja bermimpi, berangan-angan
meraih cita-cita dan pencapaian setinggi langit di angkasa namun tetap
pastikan kedua kakimu tetap menapak di bumi.


0 komentar:
Posting Komentar