[elfaqir17]-Dalam kitab Alala karangan Muhammad Abu Basyir Ar-Romawi
Dijelaskan bahwa seorang peserta didik harus mempunyai etika yang benar terhadap guru agar dapat tercapainya ilmu yang manfaat, karena di dalam kitab tersebut dijelaskan bahwa seorang peserta didik tidak akan mendapatkan ilmu yang manfaat kecuali dengan enam syarat yang harus dilengkapi, adapun enam syarat tersebut adalah :
1. Ceardas kemammpuan untuk menangkap ilmu, bukan berarti IQ harus tinggi walaupun dalam mencari ilmu IQ yang tinggi sangat menentukan sekali, asal akalnya mampu menangkap ilmu berarti sudah memenuhi syarat pertama ini, berbeda dengan orang yang tidak mempunyai akal maka sulitlah mereka dalam memperoleh ilmu yang manfaaat, akal kita laksana pedang semakin sering diasah dan dipergunakan maka akan semakin mengkilat dan tajam, begitu pula akal kita semakin sering digunakan untuk berfikir dan mengaji maka akal tersebut akan semakin tajam daya tangkapnya.
2. Semangat, artinya sungguh-sungguh dengan bukti ketekunan, karena ilmu terutama ilmu agama merupakan suatu ilmu yang mulia yang tidak akan mudah diperoleh kecuali dengan bersungguh-sungguh
3. Sabar, artinya selalu tabah menghadapi cobaan dan ujian dalam mencari ilmu, karena orang yang mencari ilmu adalah orang yang mencari jalan lurus menuju penciptanya, oleh karena itu godaan pasti selalu ada padanya.
4. Biaya, artinya orang yang menuntut ilmu memerlukan biaya seperti juga setiap manusia yang hidup memerlukannya, biaya disini hanya sebatas biaya primer saja yang meliputi sandang, pangan dan papan secukupnya.
5. Petunjuk guru, artinya orang yang mencari ilmu harus ada gurunya tidak boleh belajar sendiri, karena ilmu agama merupakan warisan dari para nabi yang turun menurun hingga kepada umat-umatnya, jadi ilmu yang sekarang kita peroleh merupakan ilmu yang bersambung kepada nabi dan sampai kepada Allah SWT.
6. Waktu yang lama, artinya orang yang mencari ilmu memerlukan waktu yang lama dan mempunyai target yang dicapai.
Dijelaskan pula bahwa seoarang murid terhadap guru harus mempunyai sifat tawadhu dan selalu mendahulukan apa yang menjadi perintahnya, karena gurulah yang telah mendidik kita pada rohani, ibarat bejana tanpa suatu isi tentu tidak akan berarti apa-apa, dan disinilah posisi guru yaitu mengsisi bejana tersebut.
Dalam kitab Ta'limul Muta’alim karangan Imam Az-Zarnuji dijelaskan bahwa etika yang harus dimilki oleh peserta didik adalah: mempunyai keniatan semata-mata hanya kepada Allah dalam mencari ilmu, memilih guru yang lebih alim dan wira'i serta lebih tua usianya, mengagungkan ilmu dan ulama serta memuliakan dan menghormati guru, rajin dan tekun serta memiliki cita-cita yang mulia.
Zakiyah Drajat dalam bukunya Metodik Khusus Pengajaran Islam, dijelaskan bahwa hal-hal yang harus diperhatikan peserta didik kepada guru adalah: selalu senantiasa patuh dan hormat kepada perintah guru, bersikap tawadhu, serta sopan dan hormat kepada guru dalam bergaul.
Ahmad Nailul Athor mengutarakan dalam skripsinya yang berjudul Kewajiban Peserta Didik dalam Proses Belajar Mengajar (telaah terhadap pemikiran Az-Zarnuji dan Al-Ghozali) bahwa seorang peserta didik harus mempunyai kode etik yang mencerminkan pribadi peserta didik yang terpuji diantaranya niat yang mulia dalam belajar, memilih guru, dan memiliki cita-cita yang mulia.(Alif Masduqi)
Dijelaskan bahwa seorang peserta didik harus mempunyai etika yang benar terhadap guru agar dapat tercapainya ilmu yang manfaat, karena di dalam kitab tersebut dijelaskan bahwa seorang peserta didik tidak akan mendapatkan ilmu yang manfaat kecuali dengan enam syarat yang harus dilengkapi, adapun enam syarat tersebut adalah :
1. Ceardas kemammpuan untuk menangkap ilmu, bukan berarti IQ harus tinggi walaupun dalam mencari ilmu IQ yang tinggi sangat menentukan sekali, asal akalnya mampu menangkap ilmu berarti sudah memenuhi syarat pertama ini, berbeda dengan orang yang tidak mempunyai akal maka sulitlah mereka dalam memperoleh ilmu yang manfaaat, akal kita laksana pedang semakin sering diasah dan dipergunakan maka akan semakin mengkilat dan tajam, begitu pula akal kita semakin sering digunakan untuk berfikir dan mengaji maka akal tersebut akan semakin tajam daya tangkapnya.
2. Semangat, artinya sungguh-sungguh dengan bukti ketekunan, karena ilmu terutama ilmu agama merupakan suatu ilmu yang mulia yang tidak akan mudah diperoleh kecuali dengan bersungguh-sungguh
3. Sabar, artinya selalu tabah menghadapi cobaan dan ujian dalam mencari ilmu, karena orang yang mencari ilmu adalah orang yang mencari jalan lurus menuju penciptanya, oleh karena itu godaan pasti selalu ada padanya.
4. Biaya, artinya orang yang menuntut ilmu memerlukan biaya seperti juga setiap manusia yang hidup memerlukannya, biaya disini hanya sebatas biaya primer saja yang meliputi sandang, pangan dan papan secukupnya.
5. Petunjuk guru, artinya orang yang mencari ilmu harus ada gurunya tidak boleh belajar sendiri, karena ilmu agama merupakan warisan dari para nabi yang turun menurun hingga kepada umat-umatnya, jadi ilmu yang sekarang kita peroleh merupakan ilmu yang bersambung kepada nabi dan sampai kepada Allah SWT.
6. Waktu yang lama, artinya orang yang mencari ilmu memerlukan waktu yang lama dan mempunyai target yang dicapai.
Dijelaskan pula bahwa seoarang murid terhadap guru harus mempunyai sifat tawadhu dan selalu mendahulukan apa yang menjadi perintahnya, karena gurulah yang telah mendidik kita pada rohani, ibarat bejana tanpa suatu isi tentu tidak akan berarti apa-apa, dan disinilah posisi guru yaitu mengsisi bejana tersebut.
Dalam kitab Ta'limul Muta’alim karangan Imam Az-Zarnuji dijelaskan bahwa etika yang harus dimilki oleh peserta didik adalah: mempunyai keniatan semata-mata hanya kepada Allah dalam mencari ilmu, memilih guru yang lebih alim dan wira'i serta lebih tua usianya, mengagungkan ilmu dan ulama serta memuliakan dan menghormati guru, rajin dan tekun serta memiliki cita-cita yang mulia.
Zakiyah Drajat dalam bukunya Metodik Khusus Pengajaran Islam, dijelaskan bahwa hal-hal yang harus diperhatikan peserta didik kepada guru adalah: selalu senantiasa patuh dan hormat kepada perintah guru, bersikap tawadhu, serta sopan dan hormat kepada guru dalam bergaul.
Ahmad Nailul Athor mengutarakan dalam skripsinya yang berjudul Kewajiban Peserta Didik dalam Proses Belajar Mengajar (telaah terhadap pemikiran Az-Zarnuji dan Al-Ghozali) bahwa seorang peserta didik harus mempunyai kode etik yang mencerminkan pribadi peserta didik yang terpuji diantaranya niat yang mulia dalam belajar, memilih guru, dan memiliki cita-cita yang mulia.(Alif Masduqi)


0 komentar:
Posting Komentar